Minggu, 30 September 2018

Daya Saing Kita Masih Kalah di Asia Tenggara

Daya Saing adalah salah satu kunci utama bagi suatu negara untuk berkompetisi dengan negara lainnya melalui berbagai program dan kebijakan terkait ekonomi dan bisnis yang memiliki potensi tinggi. Indonesia memiliki sejumlah kekurangan untuk mengejar daya saing dengan negara-negara lainnya yakni di sektor kemudahan berbisnis. Bagaimanapun juga, daya saing menjadi faktor yang paling dominan terhadap angka investasi asing yang masuk ke Indonesia. Karena jika urusan birokrasi, legalitas, dan perizinan makin rumit, tentunya investor akan berpikir dua kali sebelum menginvestasikan modalnya di tanah air.

Daya Saing

Belum lagi potensi bisnis yang dijalankan belum sepenuhnya memiliki pondasi yang kuat untuk bersaing di pasar. Jika suatu negara memperpendek jalur perizinan, serta persyaratan lain-lain dapat dipermudah, maka modal asing yang masuk bisa lebih cepat terserap. Sehingga tidak mengganggu keuntungan yang diharapkan dari suatu bisnis yang dikembangkan.

Saaat ini, skor kemudahan berbisnis di Indonesia berada pada level 66,47 dari skala 0-100. Dibandingkan dengan periode sebelumnya, angka ini naik 19 level. Namun untuk posisi Indonesia sendiri di tingkat ASEAN masih kalah dan tertinggal dari negara berkembang lainnya seperti Vietnam dan Singapura. Jadi kapan negara kita mampu mengimbangi level daya saing negara tetangga yang sudah terlebih dahulu tinggi. Jawabannya ada pada cara pemerintah dalam menjalankan kebijakan di sektor bisnis ini di tahun-tahun mendatang.

Peta Dukungan Muslim untuk Pilpres 2019

Pemilihan Presiden di 2019 akan sangat ditentukan oleh pemilih muslim. Bagaimana dua capres dan cawapres ini menerapkan strateginya untuk membuat kenaikkan Dukungan Muslim di 2019? Caranya adalah dengan meraih sebanyak mungkin kesempatan untuk menggaet suara muslim. Mengapa suara muslim menentukan pemenang pemilu? Hal ini karena jumlah pemilih muslim yang mencapai 88% dari total semua suara.

dukungan muslim

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh LSI Denny JA pada September 2018. Jumlah dukungan muslim terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin yakni sebesar 52.8%, sedangkan dukungan muslim untuk pasangan Prabowo-Sandi sebesar 29.3% dan yang masih ragu-ragu atau belum memutuskan yakni sebanyak 17.93%. Jadi secara total jika pemilu ini dilaksanakan hari ini, maka pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin akan memenangkan pemilu ini. Namun kita juga perlu melihat bagaimana elektabilitas dari masing-masing pasangan ini berkembang. Jokowi-Ma'ruf relatif stabil sedangkan Prabowo-Sandi perlahan naik dengan angka yang cukup besar. Sedangkan 17% suara lainnya masih bisa diperebutkan oleh keduanya.

Jadi, akan sangat menarik melihat bagaimana dua pasangan capres dan cawapres ini memaksimalkan suara muslim yang ada. Mesin parpol sudah seharusnya bergerak lebih cepat agar nantinya masyarakat yang memilih salah satu dari keduanya makin mantap dalam memilih. Pemilu semakin dekat dan berbagai rintangan dan strategi pemenangan dari tiap-tiap calon sudah seharusnya digalakkan sejak hari ini. Dan kita akan melihat siapa pasangan yang akan memenangi pemilu ini di 2019 nanti.

Permasalahan Sawit dan Pengaruhnya ke Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi nasional akhir-akhir ini banyak dipengaruhi oleh pergerakan harga sawit yang cenderung fluktuatif. Sawit sendiri merupakan salah satu yang paling banyak menyerap tenaga kerja yakni sebagai petani. Ketika harga sawit jatuh, maka akan sangat mempengaruhi pendapatan para petani yang tentunya akan berpengaruh terhadap daya beli yang berujung pada tingkat pertumbuhan ekonomi. Di beberapa tahun belakangan ini, harga sawit terus bergejolak naik dan turun. Hal ini bukan semata-mata karena permintaan saja, namun juga industri ini yang terus dipolitisir oleh negara-negara barat yang amat sangat mengkhawatirkan keberadaan sawit.

Harga Sawit
Harga Sawit
Sawit Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, sehingga ketika terjadi perselisihan ekonomi politik dan embargo terhadap produk ini, maka akan langsung mempengaruhi harga jual. Hal ini dikarenakan sawit yang dianggap salah satu jenis tumbuhan yang berpengaruh ke pemanasan global. Meskipun segala cara seperti standarisasi ditingkatkan, permasalahan sawit masih terus menghantui dan tak pernah berhenti untuk terus dipolitisir.

Disatu sisi, sawit merupakan mata pencaharian utama bagi jutaan petani di Indonesia. Sehingga kehidupan merea akan sangat bergantung pada bagaimana industri ini bergerak. Semoga saja di tahun-tahun mendatang persoalan sawit dunia bisa mendapatkan titik temu sehingga bisa membuat semua pihak diuntungkan. Hal ini beralasan, karena jika terus menerus bergejolak, maka target-target pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi nasional akan meleset akibat ini.

Gelaran Akbar Asian Games Naikkan Nama Jokowi

Saat ini banyak pembahasan terkait Utang Luar Negeri Indonesia yang terbilang cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya. Pada dasarnya keberadaan utang ini menjadi salah satu beban yang harus dipikul oleh semua pihak, karena nilainya yang semakin membesar dari tahun sebelumnya. Dari catatan, Utang luar negeri Indonesia pada bulan Juli 2018 sekitar 5.298T. Nilai ini terbilang fantastis karena jika tidak segera diatasi akan menimbulkan bahaya bagi negara itu sendiri.

Utang Luar Negeri

Fenomena melemahnya mata uang rupiah atas dolar menambah penderitaan Indonesia karena beban nilai tukar menjadi jauh lebih tinggi sehingga jika pembayaran tersebut dirupiahkan atau didolarkan akan memberikan efek negatif yang besar. Utang luar negeri pemerintah sudah seharusnya dotangani dengan metode yang tepat sasaran. Salah satunya adalah mengurangi jumlah utangnya dengan tidak semakin menambah beban utangnya. Karena jika suatu negara aktivitas perekonomiannya terganggu oleh hutang, maka kepercayaan masyarakat dan dunia akan menurun.

Utang akan menjadi senjata positif jika dikelola dengan baik, dengan pembangunan yang bersifat konstruktif yang bisa dirasakan manfaat investasinya dalam jangka panjang. Dalam hal ini, Indonesia menjadi negara dengan prospek yang bagus karena infrastruktur benar-benar diperbaiki secara perlahan dan berkelanjutan. Jika tidak dikelola dengan baik, utang akan mengakibatkan tumpukan masalah. Karena beban bunga sendiri dari waktu ke waktu semakin besar sehingga pembayarannya akan semakin merepotkan. Indonesia harus bangkit dan menjadi negara yang lebih baik.

Darimana Saja Utang BUMN Karya Berasal?

Utang adalah salah satu topik bahasan yang paling sering digaungkan oleh media beberapa bulan terakhir ini menyambut dengan datangnya tahun politik 2019. Utang sendiri memiliki banyak cabang yakni Utang Pemerintah, Utang Luar Negeri dan Utang BUMN. Akibat besarnya aktivitas infrastruktur nasional, kenaikkan utang bumn karya juga semakin tinggi. Ini karena pembangunan yang dikerjakan memakan biaya yang sangat besar dengan target-target yang harus tercapai dalam waktu yang singkat.

Utang BUMN

Utang BUMN kaya yang terus menggunung menjadi perhatian pemerintah, karena bagaimanapun perusahaan milik negara ini harus tetap sehat dan tak terbebani oleh utang yang besar yang memungkinkan untuk mempengaruhi kegiatan usahanya. Utang BUMN nyatanya menjadi salah satu fokus masalah yang seharusnya dibereskan dalam waktu secepatnya. Karena jika tidak, apalagi di tahun politik nanti, bisa menjadi salah satu bahan terpanas yang dibahas dan dikritiki. Bagaimanapun Indonesia telah menjadi salah satu negara yang berkembang sangat pesat baik secara manusia maupun pembangunan fisiknya.

BUMN yang memiliki risiko tinggi terhadap utang ini seharusnya diprioritaskan untuk dicari solusi masalahnya. Karena jika sampai hal ini mengganggu aktivitas perusahaan, maka akan sangat disayangkan akan mengganggu aspek yang lain juga seperti pengerjaan proyek secara intensif. Utang umumnya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar, apalagi jika beban bunga yang diperoleh sangat tinggi. Akan ada banyak sekali aspek yang harus dipertimbangkan oleh hal ini.

Sabtu, 29 September 2018

Stunting Coreng Harga Diri Bangsa Indonesia

Stunting menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Angka stunting akibat kurangnya gizi pada balita di Indonesia cukup tinggi sehingga mengkhawatirkan. Berdasarkan batas yang ditetapkan oleh WHO, angka stunting di Indonesia melampaui batas tersebut sehingga menjadi PR besar bagi pemerintah untuk segera dibereskan.

Stunting
Stunting
Stunting merupakan ancaman yang nyata bagi generasi masa depan Indonesia yang memang digadang-gadang akan menjadi salah satu dari kekuatan ekonomi dunia. Untuk bersaing ke level yang lebih tinggi, pembenahan perlu terus dilakukan salah satunya adalah di aspek kesehatan ini. Stunting menjadi masalah serius jika tidak segera ditangani, karena stunting akan membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun, apalagi jelang tahun politik seperti saat ini.

Stunting umumnya terjadi di daerah-daerah yang jauh dari kota besar. Hal ini bisa menunjukkan bahwa kesejahteraan dan pemerataan masih belum cukup untuk menjangkau seluruh masyarakat. Edukasi dan pemberian program yang lebih baik sudah seharusnya digalakan pemerintah agar kejadian seperti ini bisa dikurangi. Stunting dapat menjadu tamparan memalukan bagi suatu negara, apalagi untuk negara dengan visi besar seperti RI. Rasanya aneh ketika negara kita yang diklaim merupakan salah satu penghasil sumber daya alam yang paling beragam, mengalami masalah yang sama. Stunting sudah seharusnya tidak ada lagi. Karena ini juga menyangkut harga diri bangsa.

Data Terkini Angka Pengangguran Indonesia

Kenaikkan investasi yang terjadi di Indonesia berkat naiknya peringkat utang Indonesia oleh Fitch Rating dan beberapa lembaga internasional lainnya memberi lebih banyak nafas kepada tenaga kerja di Indonesia. Khususnya karena penambahan investasi ini dibarengi dengan penyerapan tenaga kerja lokal yang cukup banyak. Jadi, bisa diartikan bahwa pengangguran bisa sedikit berkurang akibat adanya investasi yang masif.

Pengangguran

Namun, apakah permasalahan pengangguran benar-benar teratasi? Satu hal yang pasti, pengangguran disebabkan oleh berbagai hal seperti angka usia produktif yang tinggi dan pembukaan lapangan kerja. Jika dua hal tersebut tidak seimbang, maka dipastikan akan masih ada pengangguran. Namun apakah pengangguran ini baik? Jelas, tidak ada pengangguran yang positif, namun dalam artian lain benar-benar orang yang menganggur tanpa bekerja karena memang belum menemukan pekerjaan. Apabila orang tersebut menganggur karena suatu alasan, misalnya alasan kesehatan, sengaja menganggur, dan setengah menganggur seperti freelance, maka angka ini masih bisa diatasi dan tak menimbulkan efek negatif.

Pengangguran harus dibatasi dan dikurangi agar kesejahteraan setiap orang bisa terjaga dengan baik. Kunci kesuksesan suatu negara adalah dengan meminimalisir angka pengangguran. Dan nampaknya jika Indonesia benar-benar mampu membenahi hal ini, maka bukan hal yang luar biasa bila pada akhirnya negara kita bisa mampu melewati level negara maju lainnya yang sudah terlebih dahulu memiliki segala konsep untuk membuat kehidupan di negaranya menjadi lebih seimbang dan kompetitif.